Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Jakarta » Ojek Online Berebut Ruang Kota » Ojek Online Berebut Ruang Kota

Ojek Online Berebut Ruang Kota

(34 Views) Juli 20, 2019 7:41 am | Published by | No comment

Safitri Ahmad ; writer, landscape architect, urban planner. Saat ini mengembangkan web majalaharsitekturlansekap.com, warnawarnikota.com, jamgadang04.com, rumahmakanminang.com, cemilanminang.com

Pagi ini, pukul 7:30 WIB, saya melewati Stasiun Karet. Ojek online, Pedagang Kaki Lima, dan pejalan kaki berebut ruang di depan stasiun. Saya yang ingin melintas area itu mencoba berjalan di trotoar, penuh oleh penumpang yang sedang menunggu ojek online pesanannya dan driver ojek online yang sedang menunggu penumpang. Mereka berdiri di atas trotoar, sehingga menghambat pejalan kaki.
Saya putuskan berjalan di jalur kendaraan, menyelip di antara pedagang kaki lima, dan kendaraan roda dua yang sedang parkir. Kendaraan roda dua milik driver ojek online. Parkir kendaraan roda dua sampai ke tengah jalan, sebagian pemilik kendaraan memakai jaket berwarna hijau dan hitam berdiri di dekat kendaraannya, membuat macet. Apakah tidak ada ojek pangkalan di stasiun Karet? Ada, ojek pangkalan memarkir kendaraannya di dekat pintu keluar-masuk stasiun, berjejer teratur di pinggir jalan, tidak banyak, antara 10-13 kendaraan.



Penumpang baru saja turun di stasiun Karet. Sebagian penumpang mencari/menunggu kendaraan untuk melanjutkan perjalanan, sedangkan sebagian yang lain berjalan kaki. Bagi penumpang yang sudah memesan ojek online mereka langsung menuju driver yang parkir dan segera melanjutkan perjalanan, sedangkan yang bagi penumpang yang belum memesan ojek online, dapat memesan di tempat. Driver ojek online akan bertanya lokasi antar, sebelum melakukan transaksi. Saya sempat mendengar seorang penumpang menyebutkan tujuannya, “Kemayoran”. Driver itu menolak dan mengatakan, mau cari yang dekat saja. Pagi itu banyak penumpang. Mereka (driver ojek online) akan memilih lokasi antar yang dekat dengan stasiun Karet, agar dapat mengantar beberapa orang penumpang dengan jarak dekat, sehingga bisa balik ke stasiun dan kembali mengambil penumpang yang baru datang. Antara pukul 7:00 – 9:00 WIB, ada beberapa kali kereta datang dengan jumlah penumpang yang banyak. Semua pasti membutuhkan kendaraan menuju ke tempat kerja dengan cepat.

Saya sering naik kereta di stasiun Karet, tapi jarang berada di sana pada saat-saat sibuk (pagi), sehingga tidak pernah menyaksikan penumpukan yang luar biasa, sehingga menyebabkan kemacetan di depan stasiun. Parkir kendaraan roda dua oleh ojek online sampai ke tengah jalan. Pedagang kaki lima berjualan makanan di pinggir jalan. Trotoar penuh dengan penumpang yang sedang menunggu kendaraan dan driver ojek online yang menunggu penumpang, sehingga pejalan kaki tidak dapat menggunakan trotoar.



Apakah angkutan kota ikut berebut ruang dan menjadi bagian dari kemacetan itu? Angkutan kota (Mikrolet, transjakarta, dan Kopaja) yang melalui stasiun Karet jumlahnya tidak banyak. Mereka hanya berhenti sebentar untuk mengambil penumpang, setelah itu langsung jalan.

Area di sekitar stasiun Karet terbatas, tidak ada parkir kendaraan. Arus kendaraan di jalan depan stasiun cukup padat. Dalam kondisi biasa, ojek pangkalan, ojek online yang sedang menunggu penumpang, dan pedagang kaki lima menyusun diri, menggunakan pinggir jalan sampai di dekat perempatan, teratur.

Pemesanan ojek online ada dua cara, pertama penumpang sudah memesan sebelumnya dan driver ojek online menunggu di sekitar stasiun Karet. Kedua, penumpang belum melakukan pemesanan, mereka mencari ojek online di sekitar lokasi, menyebutkan tujuan, setelah terjadi kesepakatan, maka transaksi pembayaran dilakukan melalui aplikasi. Cara kedua, systemnya seperti ojek pangkalan. Waktu tunggu atau waktu “ngetem” ojek online dengan cara seperti ini (seperti ojek pangkalan) pasti lebih lama, dibandingkan dengan ojek online yang sudah mendapatkan penumpang. Karena mereka memilih-milih penumpang yang akan diantar.



Penumpukan ojek online tidak hanya terjadi di stasiun Karet, atau titik-titik kedatangan penumpang dalam jumlah banyak. Saya pernah menyaksikan ojek online yang antri di pinggir jalan di depan toko makanan, dapat dipastikan mereka sedang menerima layanan pesan antar makanan melalui aplikasi. Agar tidak menutupi jalan dan menyebabkan kemacetan, mereka antri membentuk garis lurus di sepanjang trotoar.

Ketika jumlah driver ojek online dalam satu waktu dan satu tempat membludak, maka ia akan berebut ruang dengan pengguna ruang kota yang lain. Beda dengan ojek pangkalan yang jumlahnya terkendali, karena mereka mempunyai area “mangkal” tetap.



No comment for Ojek Online Berebut Ruang Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *