Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Jakarta » RPTRA VS Ruang Terbuka Swadaya Warga

RPTRA VS Ruang Terbuka Swadaya Warga

(120 Views) Januari 23, 2019 3:01 am | Published by | No comment



Tahun 2000 sebagian besar rumah di Keluaran Karet Tengsi, Jakarta Pusat digusur. Ada satu tapak yang sangat luas di bandingkan dengan tapak lain (500 m2) dan terletak di pinggir jalan. Salah seorang warga berinisiatif untuk meminta izin pada pihak developer (pemilik tapak) untuk menggunakan tapak itu untuk kegiatan warga. Pihak developer mengizinkan, dan tak lama beberapa orang pemuda berkeliling, meminta sumbagan pada warga untuk membangun lapangan bulutangkis. Singkat cerita, lapangan bulutangkis sumbangan warga terbangun, ditambahkan listrik, sehingga warga dapat main bulutangkis di malam hari. Tak lama Pak Lurah menyumbangkan taman di sudut tapak. Setelah itu, dibangun panggung di sisi tapak untuk berbagai acara.

Kegiatan di ruang terbuka itu penuh, pagi hari, ibu-ibu datang dengan bayi dan anak balita. Mereka duduk-duduk, ngobrol satu dengan yang lain sambil sesekali menyuapi anak. Bajaj dan mobil parkir di pinggir lahan, sehingga tidak mengganggu ibu dan anak atau kegiatan di lapangan bulutangkis. Siang, rombangan anak laki-laki, pulang sekolah bermain sepak bola. Malam hari, bapak-bapak bermain bulutangkis atau sekedar mengobrol.

Pada acara hari besar, Idul Fitri, 1 Muharram, Maulid nabi, dan 17 Agustus, diadakan berbagai cara di lapangan bulutangkis itu. Warga menyebut ruang terbuka itu, “lapangan bulutangkis”. Sampai pada suatu waktu, pihak developer menutup tapak yang sudah digusur dengan pagar, sehingga mobil yang parkir di lahan kosong, terpaksa parkir di jalan, dan salah satu tempat yang dijadikan tempat parkit adalah lapangan bulutangkis. Berangsur-angsur, semua kegiatan harian di lapangan itu, hilang, karena semua area di jadikan tempat pakir (termasuk kendaraan parkir di atas lapangan bulutangkis). Tidak ada lagi anak-anak yang bermain bola, ibu yang menyuapi anaknya di pagi hari, senam aerobic tiap minggu, dan permainan bulutangkis oleh bapak-bapak, selepas kerja.



Tapi jika ada acara, lapangan bulutangkis dikosongkan dari kendaraan yang parkir. Satu hari itu, semua kegiatan dilaksanakan di lapangan bulu tangkis. Lomba sepeda hias, acara tari dan nyanyi. Sponsor acara juga hadir dan berpromosi, antara lain : minuman ringan dan operator seluler.

Seiring lapangan bulutangkis ditutup, pemerintah DKI Jakarta membangun RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) ada dua 2 RPTRA yang saling berdekatan di kawasan itu, keduanya di pagar, sehingga tidak dapat digunakan setiap waktu (hanya waktu-waktu tertentu). Ada lapangan untuk bermain di luar, dan ada bangunan untuk berkegiatan di dalam ruangan. Sesuai namanya RPTRA, saya hanya melihat anak-anak yang berkegiatan di sana. beberapa orang ibu menemani anaknya. Ada seorang bapak yang masuk RPTRA, mungkin pengelola RPTRA.

Kawasan Karet Tengsin sebagian rumah sudah digusur, sehingga jumlah penduduk yang bermukim di area ini tidak terlalu banyak. Jumlah anak-anak juga menyusut, walau ada beberapa Sekolah Dasar di wilayah ini, tapi sebagian siswa bermukim di luar wilayah ini.

Jika saya bandingkan secara kasat mata, ruang terbuka swadaya masyarakat lebih aktif, dinamis, dan digunakan oleh warga dari berbagai lapisan. Warga bersama-sama membangun dan sekaligus merawatnya. Dulu ada Pak Mamat yang tiap pagi menyiram tanaman dan ada seorang bapak yang rajin menyapu, agar lapangan menjadi bersih. Semua kegiatan warga berpusat di ruang terbuka itu, apa saja, dan tidak menganggu satu dengan yang lain. Tapi, warga juga tidak berdaya ketika sebagian kelompok menggunakan lapangan itu untuk parkir.

Berbeda dengan RPTRA yang dibangun oleh pemerintah kota, semua serba teratur. Ada pegawai yang merawat dan membersihkan. Tidak semua orang dapat berkegiatan di dalam komplek RPTRA.

Safitri Ahmad
Writer, landscape architect, urban planner



No comment for RPTRA VS Ruang Terbuka Swadaya Warga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *