Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Jakarta » Kapan PKL Menjadi Masalah?

Kapan PKL Menjadi Masalah?

(162 Views) April 20, 2018 10:31 am | Published by | No comment



Kehadiran PKL (Pedagang Kaki Lima) dibutuhkan, dari pagi sampai malam. Ia menjadi bagian dari masyarakat kota yang terburu-buru dan serba praktis, dengan mengeluarkan uang Rp.5.000-10.000, 00, kebutuhan sarapan terpenuhi. Makan siang cukup dengan mengeluarkan uang Rp. 10.000-20.000, murah dan kenyang. Pada sore dan malam hari pun begitu, ada jajanan dan makan malam yang murah dan dekat.

Oleh karena itu PKL selalu mangkal di area perumahan, jalur jalan yang ramai kendaraan dan pejalan kaki, dan di dekat area perkantoran. Mereka mengikuti jadual karyawan pada saat pergi dan pulang. Pada pagi hari mereka berjualan sarapan di area perumahan dan jalur jalan yang ramai kendaraan, dari pukul 6:00-9:00 WIB. Siang hari, PKL mangkal di kawasan perkantoran menyediakan makan siang dari pukul 11:00- 14:00 WIB. Pada sore dan malam hari, menyediakan makan malam dan cemilan.

Ada perbedaan antara PKL yang menjual sarapan dan makan siang/makan malam. PKL yang menjual sarapan tidak membutuhkan ruang yang besar untuk tempat makan, cukup satu bangku yang memuat 3 orang. Sebagian besar pembeli memilih membawa makanan (tidak makan di tempat), berbeda dengan PKL yang menjual makan siang dan makan malam, Mereka menyediakan tempat untuk makan, dibutuhkan meja dan kursi. Ruang yang digunakan lebih besar, dan jika terjadi penumpukan pembeli dalam satu waktu, pembeli berdesakan di sekitar PKL. Tidak hanya pembeli yang menumpuk pada satu titik, tapi juga kendaraan.

PKL yang berjualan secara individu di pinggir jalan menyesuaikan diri dengan lokasi tempat mangkal, mereka mampu mengantisipasi keadaaan, jika tiba-tiba pembeli membludak dan menumpuk pada suatu waktu, sehingga tidak menganggu lalu lintas atau pejalan kaki yang ada di sekitarnya. Berbeda dengan PKL yang berjualan secara kelompok dan tidak terorganisir. Mereka tidak mampu mengendalikan pembeli yang membludak dan dampak yang ditimbulkan (menimbulkan kemacetan). Ini yang menyebabkan masalah kota.

PKL selalu mendatangi pembeli, sedekat mungkin dengan pembeli. Di sekitar area perkantoran dan komersil merupakan area yang paling potensial, karena pada saat istirahat atau pulang kerja, banyak karyawan yang membutuhkan makan siang/makan malam atau sekedar jajan. Sehingga, mereka menggunakan ruang umum untuk berjualan, walaupun peruntukan ruang untuk pejalan kaki atau pengendara.



Jalur pejalan kaki dan pinggir jalan merupakan area yang paling sering digunakan untuk tempat berjualan. Awalnya hanya satu dua PKL yang mangkal. Ini tidak mempengaruhi arus pejalan kaki dan kendaraan, tapi semakin lama semakin banyak PKL yang mangkal, seiring dengan banyaknya pembeli, akibatnya terjadi kesemrautan.

Banyak cara yang telah dilakukan untuk mengatasi keberadaan PKL, salah satunya bekerja sama dengan pengelola gedung perkantoran, sehingga PKL dapat berjualan di dalam komplek. Mereka mendapat tempat berjualan yang layak, aturan yang jelas, dan lingkungan yang bersih. Kehadiran PKL dibutuhkan oleh karyawan yang berkantor di gedung itu, sehingga karyawan tidak perlu ke luar komplek untuk mencari makan siang/makan malam. Akan tetapi, tidak semua pengelola gedung melakukan hal itu dengan berbagai pertimbangan.

Walau sudah ada upaya memberikan tempat untuk PKL dalam lingkungan perkantoran, akan tetapi, fenomena munculnya PKL menempati jalur pejalan kaki dan di pinggir jalan akan terus berlanjut, tidak akan berhenti. Karena, selalu ada PKL baru yang muncul dan pembeli yang membutuhkan jualan mereka. Ini yang harus ditindak tegas oleh pemerintah kota, ketika PKL mulai muncul di area yang tidak seharusnya, terutama di jalur pejalan kaki dan kendaraan dengan arus yang tinggi, harus segera ditindak. Membiarkan PKL berjualan dan jumlahnya semakin banyak akan semakin sulit ditertibkan.

Pola PKL itu sangat sederhana, mereka berjualan sendiri, modal terbatas, mendapat keuntungan yang cukup, dan mudah beradaptasi dengan lokasi mangkal (tempat berjualan). Penjual bakso dapat meraih keuntungan antara Rp.500.000-700.000/ hari, dan pembeli selalu ada, apalagi sudah mempunyai langganan. Mereka akan bertahan di kawasan itu.

PKL datang dan pergi dalam satu lokasi tempat berjualan berdasarkan pangsa pasar. Jika banyak pembeli, mereka akan bertahan di area itu dan bertambah banyak. Jika tidak, secara otomotis, sebagian dari mereka akan pergi dan mencari tempat yang baru.

safitri ahmad
writer, landscape architect, urban planner



No comment for Kapan PKL Menjadi Masalah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *