Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Jakarta » Memandang Lansekap Kota Dari Jalur Komuter (Commuter Line) Dari Jatinegara Ke Maja (1) » Memandang Lansekap Kota Dari Jalur Komuter (Commuter Line) Dari Jatinegara Ke Maja (1)

Memandang Lansekap Kota Dari Jalur Komuter (Commuter Line) Dari Jatinegara Ke Maja (1)

(212 Views) April 10, 2018 10:20 am | Published by | No comment



Belanda membangun jalur (jaringan) kereta api untuk menghubungkan antara kota dan desa, dan jalur itu masih dimanfaatkan sampai sekarang. Sejak tahun 1976, kereta listrik beroperasi melalui Kota Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi. Sekarang, kereta api listrik dikenal dengan Commuter Line. Setiap tahun pengguna commuter line semakin bertambah, karena fasilitas kereta api yang semakin baik dan menjadi alat transportasi yang diandalkan bagi pelaju yang bekerja di Jakarta dan bermukim di pinggir Jakarta.

Beberapa bulan terakhir pihak KAI membongkar bangunan yang dibangun di atas tanah PT KAI untuk parkir dan fasilitas umum, karena jumlah penumpang yang semakin banyak dan kebutuhan akan fasilitas stasiun yang luas dan nyaman. Pembongkaran ini menyebabkan pandangan ke area kota dan area yang dilalui commuter line tidak lagi terhalang oleh bangunan. Ada beberapa jalur antara Tangerang – Maja, Kota -Bogor, Jatinegara – Maja, setiap jalur mempunyai lansekap yang berbeda-beda. Lansekap jalur dari Jatinegara- Maja berbeda dengan lansekap Kota -Bogor.

Dari Jatinegara ke Maja, membutuhkan waktu 2.5 jam, kereta api akan melalui berbagai macam lansekap yang berbeda. Stasiun Jatinegara sebelumnya bernama Meester Cornelis, terletak di dekat pasar, berada di antara bangunan komersil. Daerah di sekitar Kramat, dua stasiun setelah Jatiegara, pemukiman warga kelas menengah, antara stasiun Rajawali sampai stasiun Angke, didominasi oleh lahan ilalang. Tidak banyak pohon di sepanjang jalur ini. Sangat menarik, di dalam kota masih terdapat lahan luas tanpa bangunan. Walau dari kejauhan terlihat beberapa bangunan tinggi.



Di kawasan Stasiun Tanah Abang, di sepanjang rel kereta api terdapat pemukiman ilegal. Dari dalam kereta komuter kita dengan mudah melihat rumah yang saling bertumpuk satu dengan yang lain, tidak terencana. Penghuni membangun ruang-ruang untuk berkegiatan antara lain ; dapur, Toilet, beranda, tempat barang (garasi), warung, tempat parkir beberapa gerobak makanan (pedagang kaki lima keliling) yang disusun rapi. Tinggi rumah dua lantai, dan menggunakan material papan, seng, dan semen. Ada jarak yang tegas antara area jalur kereta api dan tempat oerang yang kegiatan di pinggir jalur itu.Sebagian rumah menghadap ke rel dan sebagian membelakangi rel. Tidak ada pagar atau pohon yang membatasi pandangan dari kereta komuter ke permukiman itu. Pelaju yang sedang berada di dalam Commueter line dapat melihat kegiatan mereka ; berdagang, berjalan, ngobrol, memasak, dan istirahat di lantai dua.

Di stasiun Palmerah (satu stasiun setelah stasiun Tanah Abang) suasana lansekap sangat berbeda dengan area di sekitar Stasiun Tanah Abang. Di samping rel kereta terdapat jalur jalan raya, gedung perkantoran, sekolah, dan banyak pohon tinggi. Dari stasiun Palmerah sampai Serpong, mulai terlihat perumahan yang teratur dan tertata, dibangun oleh pihak pengembang, terlihat lahan kosong untuk kavling perumahan. Terjadi peralihan lansekap dari kawasan padat bangunan ke lahan kosong yang siap dibangun perumahan.

Dari Serpong ke Maja, suasana alam pedesaan mulai terasa ; kebun, sawah, ladang, rumah asli penduduk, hutan, dan kerbau di sawah.

safitri ahmad
writer, landscape architect, urban planner



No comment for Memandang Lansekap Kota Dari Jalur Komuter (Commuter Line) Dari Jatinegara Ke Maja (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *